onta-di-bulan1Kehadiran manusia selaku ‘khalifatullah’ dimuka bumi diberi amanah untuk menjaga seluruh isi alam dan mengubahnya sedemikian rupa agar memberi manfaat yang sebesar-besarnya terhadap kemaslahatan manusia dan kemanusiaan. Allah Sang Maha Pencipta telah menyediakan segala macam unsur isi alam yang dibutuhkan sehingga manusia tidak perlu lagi bersusah payah menciptakan unsur-unsur baru kecuali menggabung beberapa unsur yang telah ada untuk melahirkan sebuah kesatuan baru.

Dengan akal yang dimilikinya berkesempatan menciptakan nilai tambah atas segala isi alam untuk dimanfaatkan secara bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab, penuh perhitungan dalam bentuk hasil produksi yang terencana. Hasil produksi ( baca : penghasilan, uang, harta ) dalam berbagai ujud bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan harus dipersembahkan kembali menfaatnya secara adil kepada kelangsungan hidup manusia.

Konsep ekonomi kapitalisme yang sudah terlanjur menjadi sebuah paham yang mendunia sungguh tidak perlu diragukan lagi jumlah penganutnya. Namun dapatkah kapitalisme menjamin terciptanya  keadilan sosial bagi masyarakat luas ? Mampukah ia menjembatani jurang lebar antara si miskin dan si kaya ?

Saat ini didepan mata kita terpampang sebuah potret ketimpangan ekonomi yang sangat nyata buah kapitalisme yang ternyata jauh dari keadilan ekonomi yang bermuatan nilai-nilai illahiyah. Kehampaan akan nilai-nilai illahiyah itulah yang membuat orang tidak merasa peduli dengan orang lain kecuali menambah hartanya sendiri. Kecemburuan sosial yang ditimbulkannya tentu dapat mengarah kepada pertemntangan dan perpecahan. Jadi harus ada pertanggung-jawaban kepada Allah Sang Maha Pemberi yang telah menganugerahi manusia dengan akal pikiran, ilmu pengetahuan, kehlian dan kemampuan membuat nilai tambah. Apabila hal ini tidak dijadikan prasyarat terhadap konsep keberadaan manusia maka sangat mungkin status ‘ khalifatullah ‘ hanyalah sebuah predikat kosong belaka.

Oleh karena itu, manusia dalam tatanan dunia ekonomi yang ideal hendaknya tidak dilihat sebagai mesin pengumpul harta demi kekayaan pribadi, melainkan lebih sebagai agen penyeimbang yang dapat membantu si miskin karena sesungguhnya dalam setiap butir harta si kaya terdapat hak si miskin..

Tulis sebuah Komentar

*
*