Masya Allah…! yang namanya neraka bukan main gerahnya, eh panasnya. Entah sejak kapan, tiba-tiba saya menemukan diri saya berada disitu sedang terbakar bersama aneka rupa manusia terkutuk lainnya. Ada yang pendek gendut, ada yang tinggi putih,  ada yang bermata biru, ada yang kuning sipit dan banyak pula yang kuning langsat. Dari perawakannya, dapat disimpulkan bahwa mereka terdiri dari berbagai suku bangsa dan keturunan.. Tetapi ada satu hal yang mencengangkan saya : hampir semua orang disini bisa berbahasa Indonesia. Apa pasal ..?

Ditengah jeritan kesakitan ummat dan iblis yang saling berdesakan,  saya sempat bertemu dengan beberapa orang wajahnya familiar dengan saya, yaitu mereka yang dulu sering menghiasi koran-koran lokal atau tampil di televisi. Walau tidak ingat namanya, tapi mereka  pernah menjadi orang terkenal semasa hidup di dunia, tepatnya di Jakarta. Ada artis, selebriti, mantan anggota DPR, mantan polisi, mantan jaksa, mantan direktur BUMN, mantan aktivis parpol, mantan menteri kabinet, gubernur, walikota, dan mantan-mantan lainnya. Beberapa orang sempat saya wawancarai.

Rupanya di neraka ini, mereka tergabung dalam sebuah komunitas besar bernama : Komunitas Koruptor Indonesia. Sebesar apakah komunitas itu? Sangat besar dan berpengaruh pula. Seluruh tindak-tanduk penghuni neraka tidak dapat dilepaskan dari GBHN ( garis-garis besar haluan neraka ) yang dirumuskan oleh komunitas ini; termasuk penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi neraka bagi seluruh nerakawan ( permanent resident ) dan para pendatang.

Ketika saya tanya kenapa kok sampai sedemikian hebatnya pengaruh komunitas ini, sang pimpinannya dengan bangga menjawab  : ‘ Anda kan tahu, lebih dari separoh isi neraka ini kan orang Indonesia. Disini kita single majority, lho..!

Masya Allah..! Mayoritas di neraka kok bangga..

Tulis sebuah Komentar

*
*